Kamis, 07 Juni 2012

BIOGRAFI IMAM BUKHORI

Nama lengkapnya adalah Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhari Al Ju’fi. Akan tetapi beliau lebih terkenal dengan sebutan Imam Bukhari, karena beliau lahir di kota Bukhara, Turkistan.
Sewaktu kecil Al Imam Al Bukhari buta kedua matanya. Pada suatu malam ibu beliau bermimpi melihat Nabi Ibrahim ‘Alaihissalaam yang mengatakan, “Hai Fulanah (yang beliau maksud adalah ibu Al Imam Al Bukhari, pent), sesungguhnya Allah telah mengembalikan penglihatan kedua mata putramu karena seringnya engkau berdoa”. Ternyata pada pagi harinya sang ibu menyaksikan bahwa Allah telah mengembalikan penglihatan kedua mata putranya.
Ketika berusia sepuluh tahun, Al Imam Al Bukhari mulai menuntut ilmu, beliau melakukan pengembaraan ke Balkh, Naisabur, Rayy, Baghdad, Bashrah, Kufah, Makkah, Mesir, dan Syam. Guru-guru beliau banyak sekali jumlahnya. Di antara mereka yang sangat terkenal adalah Abu ‘Ashim An-Nabiil, Al Anshari, Makki bin Ibrahim, Ubaidaillah bin Musa, Abu Al Mughirah, ‘Abdan bin ‘Utsman, ‘Ali bin Al Hasan bin Syaqiq, Shadaqah bin Al Fadhl, Abdurrahman bin Hammad Asy-Syu’aisi, Muhammad bin ‘Ar’arah, Hajjaj bin Minhaal, Badal bin Al Muhabbir, Abdullah bin Raja’, Khalid bin Makhlad, Thalq bin Ghannaam, Abdurrahman Al Muqri’, Khallad bin Yahya, Abdul ‘Azizi Al Uwaisi, Abu Al Yaman, ‘Ali bin Al Madini, Ishaq bin Rahawaih, Nu’aim bin Hammad, Al Imam Ahmad bin Hanbal, dan sederet imam dan ulama ahlul hadits lainnya.
Murid-murid beliau tak terhitung jumlahnya. Di antara mereka yang paling terkenal adalah Al Imam Muslim bin Al Hajjaj An Naisaburi, penyusun kitab Shahih Muslim. Al Imam Al Bukhari sangat terkenal kecerdasannya dan kekuatan hafalannya. Beliau pernah berkata, “Saya hafal seratus ribu hadits shahih, dan saya juga hafal dua ratus ribu hadits yang tidak shahih”. Pada kesempatan yang lain belau berkata, “Setiap hadits yang saya hafal, pasti dapat saya sebutkan sanad (rangkaian perawi-perawi)-nya”.
Beliau juga pernah ditanya oleh Muhamad bin Abu Hatim Al Warraaq, “Apakah engkau hafal sanad dan matan setiap hadits yang engkau masukkan ke dalam kitab yang engkau susun (maksudnya : kitab Shahih Bukhari, pent.)?” Beliau menjawab, ”Semua hadits yang saya masukkan ke dalam kitab yang saya susun itu sedikit pun tidak ada yang samar bagi saya”.
Anugerah Allah kepada Al Imam Al Bukhari berupa reputasi di bidang hadits telah mencapai puncaknya. Tidak mengherankan jika para ulama dan para imam yang hidup sezaman dengannya memberikan pujian (rekomendasi) terhadap beliau. Berikut ini adalah sederet pujian (rekomendasi) termaksud:
Muhammad bin Abi Hatim berkata, “Saya mendengar Ibrahim bin Khalid Al Marwazi berkata, “Saya melihat Abu Ammar Al Husein bin Harits memuji Abu Abdillah Al Bukhari, lalu beliau berkata, “Saya tidak pernah melihat orang seperti dia. Seolah-olah dia diciptakan oleh Allah hanya untuk hadits”. Abu Bakar Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah berkata, “Saya tidak pernah meliahat di kolong langit seseorang yang lebih mengetahui dan lebih kuat hafalannya tentang hadits Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam dari pada Muhammad bin Ismail (Al Bukhari).”Muhammad bin Abi Hatim berkata, “ Saya mendengar Abu Abdillah (Al Imam Al Bukhari) berkata, “Para sahabat ‘Amr bin ‘Ali Al Fallaas pernah meminta penjelasan kepada saya tentang status (kedudukan) sebuah hadits. Saya katakan kepada mereka, “Saya tidak mengetahui status (kedudukan) hadits tersebut”. Mereka jadi gembira dengan sebab mendengar ucapanku, dan mereka segera bergerak menuju ‘Amr. Lalu mereka menceriterakan peristiwa itu kepada ‘Amr. ‘Amr berkata kepada mereka, “Hadits yang status (kedudukannya) tidak diketahui oleh Muhammad bin Ismail bukanlah hadits”.
Al Imam Al Bukhari mempunyai karya besar di bidang hadits yaitu kitab beliau yang diberi judul Al Jami’ atau disebut juga Ash-Shahih atau Shahih Al Bukhari. Para ulama menilai bahwa kitab Shahih Al Bukhari ini merupakan kitab yang paling shahih setelah kitab suci Al Quran.
Hubungannya dengan kitab tersebut, ada seorang ulama besar ahli fikih, yaitu Abu Zaid Al Marwazi menuturkan, “Suatu ketika saya tertidur pada sebuah tempat (dekat Ka’bah –ed) di antara Rukun Yamani dan Maqam Ibrahim. Di dalam tidur saya bermimpi melihat Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam. Beliau berkata kepada saya, “Hai Abu Zaid, sampai kapan engaku mempelajari kitab Asy-Syafi’i, sementara engkau tidak mempelajari kitabku? Saya berkata, “Wahai Baginda Rasulullah, kitab apa yang Baginda maksud?” Rasulullah menjawab, “ Kitab Jami’ karya Muhammad bin Ismail”. Karya Al Imam Al Bukhari yang lain yang terkenal adalah kita At-Tarikh yang berisi tentang hal-ihwal para sahabat dan tabi’in serta ucapan-ucapan (pendapat-pendapat) mereka. Di bidang akhlak belau menyusun kitab Al Adab Al Mufrad. Dan di bidang akidah beliau menyusun kitab Khalqu Af’aal Al Ibaad.
Ketakwaan dan keshalihan Al Imam Al Bukhari merupakan sisi lain yang tak pantas dilupakan. Berikut ini diketengahkan beberapa pernyataan para ulama tentang ketakwaan dan keshalihan beliau agar dapat dijadikan teladan. Abu Bakar bin Munir berkata, “Saya mendengar Abu Abdillah Al Bukhari berkata, “Saya berharap bahwa ketika saya berjumpa Allah, saya tidak dihisab dalam keadaan menanggung dosa ghibah (menggunjing orang lain).” Abdullah bin Sa’id bin Ja’far berkata, “Saya mendengar para ulama di Bashrah mengatakan, “Tidak pernah kami jumpai di dunia ini orang seperti Muhammad bin Ismail dalam hal ma’rifah (keilmuan) dan keshalihan”. Sulaim berkata, “Saya tidak pernah melihat dengan mata kepala saya sendiri semenjak enam puluh tahun orang yang lebih dalam pemahamannya tentang ajaran Islam, leblih wara’ (takwa), dan lebih zuhud terhadap dunia daripada Muhammad bin Ismail.” Al Firabri berkata, “Saya bermimpi melihat Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam di dalam tidur saya”. Beliau Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam bertanya kepada saya, “Engkau hendak menuju ke mana?” Saya menjawab, “Hendak menuju ke tempat Muhammad bin Ismail Al Bukhari”. Beliau Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam berkata, “Sampaikan salamku kepadanya!” Al Imam Al Bukhari wafat pada malam Idul Fithri tahun 256 H. ketika beliau mencapai usia enam puluh dua tahun. Jenazah beliau dikuburkan di Khartank, nama sebuah desa di Samarkand. Semoga Allah Ta’ala mencurahkan rahmat-Nya kepada Al Imam Al Bukhari.

Rabu, 06 Juni 2012

sholat sunnah rowatib dengan berjama'ah



            Sudah menjadi tradisi masyarakat melaksanakan sholat sunnah rowatib (qobliyah ba’diyah) secarberjama’ah. padahal sholat sunnah rowatib bukan termasuk sholat yang sunnah dilakukan secara berjama’ah.
Pertanyaan   :  Apakah hal tersebut diatas bisa mendapat pahala  ?
Jawab           :  Ulama berbeda pendapat  :
-          Mendapat pahala berjama’ah.
-          Tidak mendapat pahala berjama’ah.
-          Mendapat pahala jika bertujuan ta’lim (mendidik) dan tidak menimbulkan persepsi bahwa hal tersebut disunnahkan.
Ta’bir            :  I’anatuth Tholibin juz I hal. 245.
                         Bughyatul Mustarsyidin hal. 67.

2.    فى إعانة الطالبين 1/245 مانصه : (قوله لاتسن له جماعة) أى دائما وأبدا بأن لم تسن له أصلا أو تسن فى بعض الأوقات كالوتر فى رمضان قال فى النهاية : ولو صلى جماعة لم يكره انتهى. ونقل ع ش عن سم أنه يثاب عليها وقال ح ل لايثاب عليها قال البجيرمي واعتمد شيخنا ح ف كلام ح ل.
3.    وفى بغـية المـستـرشـدين 1/67 مـانصـه : (مسألة ك) تـباح الجـماعـة فى الوتـر والتسبيح فلا كراهـة فى ذلك ولا ثواب نعم إن قـصـد نحو الـمصـليـن وتـحريضهم كان له ثواب وأي ثواب بالنيـة الـحسنة فكما يـباح الجـهر فى موضع الإسـرار الذى هـو مكروه فأولى مـا أصـلـه الإبـاحـة إلى أن قـال هـذا إذا لم يقـترن بـذالك محذور كـنحو إيذاء أو إعـتقاد وإلا فـلا ثـواب بـل يـحرم و يمنـع منـها الـعـامة مـشـروعية الـجـماعة.

PONPES DARUSSALAM MENERIMA SANTRI BARU

BUNTET PESANTREN MEMPUNYAI FASILITAS SEKOLAH SBB:

1.MADRSAH IBTIDAIYAH PA/PI
2.MADRASAH TSANAWIYAH PA/PI
3.MADRASAH ALIYAH PA/PI
4.MADRASAH ALIYAH NEGEI (MAN)
5.SMK (OTOMOTIF DAN MULTIMEDIA)
6.ASRAMA SANTRI PA/PI
7.MADRASAH DINIYAH DAN PENGAJIAN KITAB-KITAB SALAF
8.KURSUS BHS INGGRIS-KOMPUTER (LBK)
9.SARANA OLAHRAGA DAN LAB BAHASA

Burdah Masa Nabi Muhammad saw dan Burdah Al-Bushairi







Oleh : Santrine KH. Tb Ahmad Rifqi Chowas BPC

A. Burdah Masa Nabi Muhammad saw.



Barangkali, selama ini kita, kalangan pesantren, hanya mengenal Burdah karya al-Bushiri semata. Padahal, ada kasidah Burdah lain yang muncul jauh sebelum al-Bushiri lahir (abad ke tujuh H, atau abad tiga belas M.). Kasidah itu adalah bait-bait syair yang di gubah oleh seorang sahabat yang bernama lengkap Kaâab bin Zuhair bin Abi Salma al-Muzny. Sebagai ungkapan persembahan buat Nabi Muhammad Saw. Kaâab termasuk salah seorang Muhadrom, yakni penyair dua zaman: Jahiliyah dan Islam.
Ada kisah menarik dibalik kemunculan Burdah Ka'ab bin Zuhair ini. Mulanya, ia adalah seorang penyair yang suka menjelek-jelekkan Nabi dan para sahabat dengan gubahan syairnya, kemudian ia lari untuk menghindari luapan amarah para sahabat Nabi.
Pada peristiwa Fathu Makkah (penaklukan kota Mekah), saudara Ka'ab yang bernama Bujair bin Zuhair berkirim surat padanya yang berisikan antara lain: anjuran agar Ka'ab pulang dan menghadap Rasulullah. Ka'ab-pun kembali dan bertobat. Lalu ia berangkat menuju Madinah dan menyerahkan dirinya kepada Rasul melalui perantaraan sahabat Abu Bakar. Diluar dugaan Ka'abb, ia justru mendapat kehormatan istimewa dari baginda. Begitu besarnya penghormatan itu, sampai-sampai Rasul rela melepaskan Burdah (jubah yang terbuat dari kain wol/sufi)nya dan memberikannya pada Ka'ab.
Dari sini, Ka'ab kemudian menggubah qasidah madahiyah (syair-syair pujaan) sebagai persembahan pada baginda Nabi yang terkenal dengan nama kasidah “Banat Suâad†(Wanita-wanita Bahagia.) Kasidah ini terdiri dari 59 bait, dan disebut juga kasidah Burdah. Di antara prosa berirama gubahan Ka'ab adalah Aku tahu bahwa Rasul berjanji untuk memaafkanku/dan pengampunannya adalah dambaan setiap insan/Dia adalah pelita yang menerangi mayapada/pengasah pedang-pedang Allah yang terhunus
Burdah (jubah) pemberian Nabi itu, kemudian dibeli oleh sahabat Muâawiyah bin Abi Sufyan dari putra Kaâab. Dan biasa dipakai oleh khalifah-khalifah setelah Muâawiyah pada hari-hari besar.

B. Burdah Al-Bushiri
Kasidah Burdah karya Syaikh al-Bushiri, adalah salah satu karya sastra Islam paling populer. Ia berisikan sajak-sajak pujian kepada Nabi Muhammad Saw. yang biasa dibacakan pada setiap bulan maulid/Rabiul Awal, bahkan di beberapa belahan negeri Islam tertentu, Burdah kerapkali dibacakan dalam setiap even.
Sajak-sajak pujian untuk Nabi dalam kesusastraan Arab di masukkan dalam genre (bagian) al-madaih al-Nabawiyah. Sedang dalam kesusastraan Persia dan Urdu, dikenal sebagai kesusastraan naâtiyah (bentuk plural naât yang berarti pujian). Dalam tradisi sastra Arab, al-madaâih atau naâtiyah mula-mula ditulis oleh Hasan ibnu Tsabit, Kaâab bin Malik dan Abdullah bin Rawahah. Sedang yang paling terkenal ialah Kaâb bin Zuhair.
Pada abad ke-11 H., muncul seorang penyair al-madaih terkemuka, Saâlabi, yang juga seorang kritikus sastra. Namun munculnya al-Bushiri dengan Burdahnya, sebagaimana munculnya karya Majduddin Sanaâi dalam bahasa Persia, al-madaih atau naâtiyah mencapai fase baru, yaitu tahapan sufistik, karena bernuansa nafas tasawuf. Lahirnya karya kedua penyair ini yang membuat puisi al-madaih berkembang pesat dalam kesusastraan Islam. Khusus karya al-Bushiri, selain sangat populer, ia juga sangat besar pengaruhnya terhadap kemunculan berbagai bentuk kesenian umat Islam. Karya al-Bushiri juga memberikan pengaruh yang tidak sedikit dalam mengoptimalkan metode dakwah Islamiyah, pendidikan dan ilmu retorika (ilmu Badiâ ) Nama Burdah muncul setelah pengarangnya mengemukakan latar belakang penciptaan karya monumentalnya ini. Ketika al-Bushiri mendapat serangan jantung, sehingga separuh tubuhnya lumpuh, dia berdoa tak henti-hentinya sembari mencucurkan air mata, mengharapkan kesembuhan dari Tuhan. Kemudian dia membacakan beberapa sajak pujian. Suatu saat dia tidak dapat menahan kantuknya, lantas tertidur dan bermimpi. Dalam mimpinya, ia berjumpa Nabi Muhammad saw. Setelah Nabi menyentuh bagian tubuhnya yang lumpuh, beliau memberikan jubah sufi (Burdah) kepada al-Bushiri Kemudian aku terbangun dan kulihat diriku telah mampu berdiri seperti sediakalaâ “ujar Syekh al-Bushiri”.
Awalnya, al-Bushiri memberi nama karyanya ini dengan nama kasidah Mimiyah, karena bait-bait sajaknya diakhiri dengan huruf Mim, selanjutnya kasidah ini dikenal dengan kasidah Baraâah, sebab menjadi cikal bakal sembuhnya sang pujangga dari kelumpuhannya. Hanya saja nama kasidah Burdah lebih populer di kalangan umat Islam dibanding sebutan yang lain. Kasidah Burdah terdiri atas 162 sajak dan ditulis setelah al-Bushiri menunaikan ibadah haji di Mekkah. Dari 162 bait tersebut, 10 bait tentang cinta, 16 bait tentang hawa nafsu, 30 tentang pujian terhadap Nabi, 19 tentang kelahiran Nabi, 10 tentang pujian terhadap al-Qurâan, 3 tentang Israâ Miâraj, 22 tentang jihad, 14 tentang istighfar, dan selebihnya (38 bait) tentang tawassul dan munajat.
Kasidah Burdah telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dunia; seperti Persia, India, Pakistan, Turki, Urdu, Punjabi, Swahili, Pastun, Indonesia, Sindi dan lain-lain. Di Barat, ia telah diterjemahkan antara lain ke dalam bahasa Inggris, Prancis, Jerman, Spanyol dan Italia.

KH.Mohammad Abbas bin KH.Abdul Jamil



oleh: naidy El-Batawie ( santrine  KH. Tubagus Ahmad Rifqi Khan )
Al-Mukarram Kyai Abbas bin Kyai Abd Djamil dari Buntet adalah Wali Allah berintelektual tinggi, pejuang hebat dan ahli organisasi. Di bawah kepemimpinannya Pesantren Buntet di Cirebon mencapai masa keemasan, walaupun saat itu situasi dalam keadaan kacau dan penuh ketegangan sebagai akibat dari berkecamuknya Perang Dunia II. Kyai Abbas adalah salah satu dari “Tujuh Kyai Besar” yang menjadi Muqaddam utama Tarekat Tijaniyyah yang diangkat oleh Mursyid Tarekat Tijaniyyah Syekh Ali ibn Abdullah at-Thayyib al-Madani dari Madinah. Ketujuh Muqaddam utama inilah yang bertanggung jawab atas penyebaran Tarekat ini ke wilayah Jawa Barat. Tujuh Muqaddam itu adalah Syekh Ali at-Thayyib Bogor (putra dari Syekh Ali ibn Abdullah at-Thayyib di Madinah), Kyai As’ari Bunyamin Garut, Kyai BADRUZZAMAN GARUT, Kyai Utsman Damiri Cimahi (Bandung), dan tiga bersaudara Kyai Buntet: Kyai Abbas Djamil, Kyai Anas dan Kyai Akyas.
Kyai Abbas Djamil adalah putra tertua dari pasangan Kyai Abdul Djamil dan Nyai Qari’ah. Beliau dilahirkan sekitar tahun 1879. Kyai Abbas pertama kali belajar agama kepada ayahnya sendiri, yang merupakan Kyai terkenal pada zamannya. Kyai Abbas juga berguru kepada Kyai Anwaruddin Kriyani, lebih akrab dipanggil Ki Buyut Kriyan, yang juga dikenal sebagai Mursyid Tarekat Syattariyyah dan juga pernah menjadi penghulu agama di Kraton Kasepuhan Cirebon. Kemudian Kyai Abbas berguru ke Kyai Nasuha di Pesantren Sukunsari, Plered, Kyai Hasan di Jatisari, Weu, dan Kyai Ubaidah di Tegal. Kemudian beliau berangkat ke Mekah untuk berhaji dan menetap untuk memperdalam ilmu agama. Salah satu gurunya adalah Kyai Mahfudz dari Termas yang amat termasyhur itu. Pulang dari Mekah, Kyai Abbas kerap menemui Hadratus Syekh HASYIM ASY’ARI di Tebuireng Jombang. Bersama Kyai Wahab Hasbullah dan Kyai Manaf beliau ikut membidani lahirnya Pesantren Lirboyo di Kediri.
Setelah Kyai Abdul Djamil meninggal, Kyai Abbas memegang tampuk kepemimpinan pesantren. Salah satu terobosan utama yang dilakukan Kyai Abbas adalah pengenalan sistem madrasah di pesantren sembari tetap mempertahankan sistem pengajaran tradisional seperti sorogan, bandungan, dan ngaji pasaran. Pada 1928 beliau mendirikan Madrasah Abnaul Wathan Ibtidaiyah yang mengajarkan bidang studi umum dan sekuler. Dalam hal ini Kyai Abbas mengambil pedoman dari perkataan Imam Syafi’i: “Peliharalah nilai lama yang baik dan ambil nilai baru yang lebih baik,” yang kemudian menjadi motto Pesantren Buntet. Beberapa santri Kyai Abbas kelak menjadi tokoh terkenal di tingkat nasional seperti Tubagus Mansur Ma’mun, seorang qari nasional terkenal pada zamanny; H. Amin Iskandar, yang pernah menjadi dubes RI untuk Irak, Profesor Kyai Haji Ibrahim Hussein, pernah menjadi rektor IAIN Palembang dan Perguruan Tinggi ilmu al-Qur’an Jakarta dan sebagainya.
Hingga akhir hayatnya Kyai Abbas Djamil Buntet sangat aktif dalam pergerakan sosial keagamaan dan politik. Kyai Abbas meninggal pada tahun 1946 dan dimakamkan di kompleks makam santri Buntet.
Ajaran dan karamah
Sebagai Mursyid Tarekat, Kyai Abbas menempati kedudukan unik karena beliau selain menjadi Mursyid Tarekat Tijaniyyah beliau juga menjadi Mursyid Tarekat Syattariyyah. Ini agak aneh sebab tradisi Tarekat Tijaniyyah melarang pengikutnya menjadi pengikut tarekat lain. Beberapa kalangan menyatakan bahwa pengecualian ini disebabkan oleh tingginya derajat keilmuan dan spiritualitas Kyai Abbas. Pada masanya inilah Pesantren Buntet memegang peranan penting dalam menyebarluaskan Tarekat Syattariyyah dan Tijaniyyah.
Ketinggian ilmunya dan keluasan wawasannya, serta sikapnya yang progresif (di mana beliau tidak hanya mengajarkan kitab kuning tetapi juga beberapa kitab “modern”) menyebabkan namanya terkenal di seantero Jawa.                 Selain tinggi kecerdasannya, Kyai Abbas juga terkenal sebagai kyai yang sakti mandraguna. Banyak santri dan tamu yang berdatangan untuk belajar ilmu kesaktian kepada beliau. Yang datang berguru pun bukan orang biasa saja, namun sudah merupakan kelas pendekar yang ingin menambah ilmu. Konon Kyai Abbas menerima beberapa tamu sakti langsung di kamar pribadinya untuk diajak duel. Setelah diuji kemampuannya, barulah Kyai Abbas memberinya ijazah amalan kesaktian sesuai kebutuhan. Ketika Pesantren Tebuireng meminta pengamanan dari Buntet, Kyai Abbas sendiri yang langsung memimpin pasukan pengaman pendirian Pesantren Tebuireng. Kyai Abbas datang bersama kakaknya, Kyai Soleh Zamzam dari Pesantren Benda Kerep, Kyai Abdullah Pengurangan dan Kyai Syamsuri Wanatar untuk melawan para penjahat yang didukung Belanda untuk mengganggu pendirian Pesantren.
Kyai Abbas juga merupakan tokoh pejuang nasional. Di usianya yang sudah sepuh, 60 tahun, Kyai Abbas bahkan ikut terjun langsung dalam pertempuran 10 November di Surabaya. Pesantrennya juga menjadi salah satu basis perjuangan. Sebagian tokoh Hizbullah berasal dari Buntet, termasuk Kyai Abdullah Abbas (Ki Dullah), putra Kyai Abbas Djamil.
Setelah Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari mengeluarkan Resolusi Jihad, Bung Tomo, yang belakangan dikenal sebagai salah satu tokoh utama perang besar 10 November, berkonsultasi dengan Kyai Hasyim Asy’ari dan mohon doa restu untuk melawan tentara Inggris. Bung Tomo sudah tidak sabar dan mendesak Kyai Hasyim untuk segera menentukan hari penyerangan. Namun Kyai Hasyim mengatakan, “Harap bersabar, kami masih menunggu kedatangan kyai dari Cirebon.” Yang dimaksud adalah rombongan Kyai Abbas Djamil.
Menurut saksi mata, saat itu Kyai Abbas berangkat ke Surabaya bersama pasukan Hizbullah Resimen XII. Kyai Abbas mengenakan sarung, bersorban dan membawa sandal japit dari kulit (terompah). Beliau membawa kantong yang berisi bakiak (sandal dari kayu). Kyai Abbas sempat mampir di Rembang untuk bermusyawarah dengan kyai-kyai lainnya, yang kemudian memutuskan mengangkat Kyai Abbas sebagai komandan perang. Sesampainya di Surabaya, rombongan kyai pejuang ini disambut teriakan takbar. Para kyai kemudian shalat sunnah di sebuah masjid. Kyai Abbas kemudian memerintahkan para pendampingnya untuk berdoa di tepi kolam masjid dan memerintahkan para pejuang mengambil wudhu dan meminum air yang telah diberi doa. Banyak pejuang yang kurang puas hanya berwudhu, dan mereka langsung terjun masuk ke kolam. Mereka ini, yang bersenjatakan bambu runcing dan pentungan, kemudian langsung bergerak menyongsong pasukan Inggris yang bersenjatakan lengkap.

Para Kyai berdiri di atas tempat yang agak tinggi. Kyai Abbas segera mengenakan bakiak yang dibawanya dari Cirebon, membaca doa sambil menengadahkan tangannya ke langit. Saat itulah kekuatan karamah Kyai Abbas keluar. Ribuan alu (penumbuk padi) dan lesung melesat dari rumah-rumah penduduk dan menerjang para serdadu musuh, memukul mundur pasukan penjajah. Pihak sekutu kemudian mengirimkan pesawat pengebom Hercules untuk meluluhlantakkan Surabaya. Namun pesawat itu, berkat kekuatan karamah Kyai Abbas, banyak yang meledak di udara.
Hingga akhir hayatnya Kyai Abbas selalu memantau dan menyiagakan laskar santrinya sebab beliau tahu Belanda amat licik. Namun ditengah kegigihan para laskar, termasuk para kyai pemimpin Hizbullah, diplomat Indonesia melakukan kesepakatan di Linggar Jati. Konon, mendengar hasil Perjanjian Linggar Jati itu, Kyai Abbas merasa sedih dan kecewa, merasa perjuangannya dikhianati. Beliau tak lama kemudian jatuh sakit hingga wafat pada hari Minggu subuh 1 Rabiul Awal 1365 H atau 1946 Masehi.

Selasa, 05 Juni 2012

"Qunut Shubuh" dalam pandangan Mufti Mesir,Assyaikh. Prof. Dr. Ali Jum'ah.

Oleh : KH. Tubagus Ahmad Rifqi Khan

 
Bismillahirrohmanirrohim.
 
Mas'alah qunut didalam Shalat shubuh adalah termasuk mas'alah fiqhiyah far'iyah(bukan mas'alah aqidah),maka hendaknya setiap muslim jangan bercerai berai dan bermusuhan satu sama lainya krn mas'alah ini. Ulasan penjelasan hal ini bahwasanya para Ahli fiqh (fuqoha')berbeda pendapat (khilaf) dalam kesunnahan qunut Shubuh. ulama madzhab Syafi'ie dan Maliky berpendapat sunnah dilakukan di Shalat Shubuh,sedangkan Ulama madzhab Hanafi dan Hanbali berpendapat tdk disunnahkannya di dalam Shalat Shubuh.

Annawawy berkata: ketahuilah bahwa qunut itu masyru' menurut kami di Salat Shubuh,ya'ni Sunnah mu'akkadah berdasarkan hadits riwayat Anas bin Malik ra: "Nabi saw selalu berqunut di Shalat fajar sampai ia berpisah dg dunia (hr.Ahmad,Abd Rozaq,Addaroquthny,al Haitsamy,al Hakim di al arba'ien,dia berkata hadits ini Shohieh dan seluruh perowinya bisa dipercaya).
 
Mengenai hukum qunut Shubuh,maka terdapat beberapa qoul dr para Shahabat dan tabi'ien,diantaranya pendapat Ali bin Ziyad yg berpendapat atas kewajiban melakukan qunut Shubuh dan bagi yg tdk melakukanya dapat membatalkan Shalat.
 
Qunut boleh dilakukan sebelum atau sesudah ruku' pada raka'at ke dua,namun yg afdhol, dilakukan sebelum ruku' sesudah bacaan surat dan tanpa diselingi takbir. Hal itu disebabkan supaya ada perhatian kepada ma'mun masbuq. Juga dikarenakan tdk ada fashal antara qunut dan dua rukun Shalat(i'tidal dan ruku'). Juga dikarenakan ketetapan yg dilakukan oleh Umar bin Khotthob ra di hadapan para Shahabat.
 
Alqhadhy Abdulwahab Al Baghdady berkata: diriwayatkan dr Abi Roja' al athoridy dia berkata: Qunut dilakukan sesudah ruku',kemudian dijadikanlah sebelum ruku' oleh Umar bin Khotthob ra supaya shalat dapat tersusul oleh ma'mum masbuq. Namun diriwayatkan bahwasanya kaum Muhajirin ra dan Al Anshar memohon kepada Sy Utsman ra (untuk mengubah posisi) qunut seperti semula,kemudian Utsman bin Affan mengubahnya seperti semula(sesudah ruku'). Dan adanya qunut sebelum ruku' memang mempunyai faidah dibanding setelah ruku'. Diantaranya adalah perpanjangan berdiri ktk Shalat hingga Ma'mum yg terlambat dapa menyusulnya,juga qunut merupakan bentuk perpanjangan berdiri ketika Shalat maka lebih tepat kalau dilakukan sebelum ruku' terlebih di Shalat Shubuh.
 
Namun MADZHAB SYAFI'I dalam hal qunut Shubuh LEBIH UNGGUL dikarenakan kekuatan dalil2 yg menopangnya yaitu:
 
1.       Hadits riwayat Abu Hurairah ra dia berkata, Adalah Rosulullah saw apabila mengangkat kepalanya dr ruku' di Shalat Shubuh pd roka'at ke dua maka beliau berdo'a : Allahummahdini fiman hadait....dst,albaihaqi menambah : falaka alhamdu ala ma qhadhait,atthabrany menambah: walaa ya'izzu man 'adait (Al Hakim di Mustadrok j 4 hal 298, Al Baihaqy di Sunan asshughro j 1 hal 276,Atthabrany di alushath j 7 hal 232,Subulussalam j 1 hal 186).
2.       Hadits riwayat Anas bin Malik ra, yg telah disebut diatas....dan Anas bin Malik ditanya apakah Rosulullah saw berqunut di Shalat Shubuh..? Ia menjawab : ia, ditanyakan lg apakah sebelum atau sesudah ruku'..? Ia menjawab : sesudah ruku'.( hr Muslim di Shahih Muslim j 1 hal 486, Abu Dawud di Sunan Abi Dawud j 2 hal 68) .
3.       Dari Abu Hurairah ra : WALLAHI saya adalah org yg paling mendekati Shalat Rosulillah saw diantara kalian. Dan Abu Hurairah SELALU berqunut pada raka'at akhir di Shalat Shubuh,setelah mengucapkan sami'aLLohu liman Hamidah dan berdoa untuk mu'minin mu'minat lalu melaknati orang2 kafir (hr Al Baihaqy di Sunan Asshughro juz 1 hal 277)
4.       Dari Abdillah bin Abbas ra ia berkata : Adalah Rosulullah saw selalu mengajarkan kita do'a yg kita baca di Qunut Shubuh yaitu : Allahumma ihdina fiman Hadait...dst( hr Al Baihaqy di Sunan al kubro juz 2 hal 210).
5.       Hadits : adalah Rosulullah saw apabila mengangkat kepalanya dr ruku' di Shalat Shubuh pada raka'at ke 2 maka ia mengangkat kedua tangannya lalu berdo'a: Allahummahdina... Dalam riwayat lain : bahwasanya Nabi saw bila mengangkat kepalanya dari ruku' di Shalat Shubuh pada akhir raka'at ke 2 maka ia melakukan QUNUT (Al jami' al shoghier lilhafidz Assuyuthy juz 1 hal 157).
 
LAFADZ QUNUT :
 
Adapun lafadz qunut maka yg dipilih hendaknya sesuai yg diriwayatkan oleh Al Hasan bin Ali ra dia berkata : Rasulullah saw mengajariku beberapa kalimat yg aku ucapkan di witir yaitu : Allahumma ihdini fii man hadaita...dst (Nihayatul Muhtaj,al allamah Arromly juz 1 hal 503) dan disunnahkan membaca Shalawat sesudahnya menurut wajah yg Shohih dan masyhur. Disunnahkan pula dg lafadz : Allahumma inna nasta'inuka wa nastaghfiruka...dst.
 
Berdasarkan yang telah disebut di atas,kita dapat mengetahui KEUNGGULAN MADZHAB SYAFI'I ra, yang menyatakan bahwa QUNUT SHUBUH ADALAH SUNNAH dan bagi yg meninggalkannya disunnahkan melakukan sujud sahwi untuk menambalnya namun tidak sampai membatalkan Shalat krn meninggalkan qunut tsb. [Wallahu 'alam bisshowab.Buntet pesantren 28 oktober 2009]
 
Sumber: Al Bayan Al qowiem hal 99 sd 101.
 
KH. Tubagus Ahmad Rifqi Khan
Pengasuh Pondok Darussalam, Buntet Pesantren Cirebon

FADHILAH ZIARAH QUBUR & HAUL


Oleh : TB.AHMAD RIFQI CHOWASH
Ziarah artinya berkunjung dari zaaro yazuuru ziyaarotan.....baik ke orang yang masih hidup maupun yang sudah mati. Atau ke tempat yang diperintahkan Allah swt karena ibadah seperti karena berhaji atau 'umroh.

Agama islam menganjurkan kita berziarah qubur dengan 3 tujuan:

1. karena mengingat kematian.
Mengingat kematian memang dianjurkan oleh Agama kita karena dengan mengingatnya kita akan lebih senang kepada akhirat di banding di dunia dan supaya dapat mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk hidup di kemudian hari.
mengingat kematian dapat dilakukan kapan saja di mana saja dan tidak harus dengan berziarah qubur sesuai dg perkataan Nabi saw:اكثروا من ذكر هادم اللذات...(perbanyaklah mengingat hal yg memutuskan kelezatan)hadits ini termasuk hadits shohieh yg masyhur.Bahkan Syekh Nawawi bin Umar Al Bantany dalam syarah Nashoih al 'ibad mengatakan:mengingat kematian dengan ziarah kubur dapat dilakukan maskipun kepada kuburan orang kafir sedangkan berdo'a untuk mereka yg kafir maka tidak diperbolehkan.
2.Karena kesunnahan dan anjuran Nabi saw.
Nabi kita Nabi mulia Muhammad saw menganjurkan kita menziarahi kuburan kerabat kita sesama muslim,apalagi orang tua kita sendiri seperti saudara,teman dan siapapun yang se agama dengan kita.
bahkan Nabi saw dan para shahabatnya selalu berziarah di kuburan para Syhada' uhud setiap haul(temu tahun)dan berziarah di Baqi' al Ghorqod setiap sore kamis.sesuai dengan keterangan yang berikut ini:
Dalil mengenai haul adalah berdasarkan hadits yang menerangkan bahwa junjungan kita Sayyidina Muhammad saw. Telah melakukan ziarah kubur pada setiap tahun yang kemudian diikuti oleh sahabat Abu Bakar, Umar dan utsman. Hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi dari al-Waqidy.

عَنِ اْلوَاقِدِى قَالَ : كَانَ النَّبِـىُّ يَـزُوْرُ شُهَدَاءَ اُحُدٍ فِيْ كُلِّ حَوْلٍ وَاِذَا بَلَغَ رَفَعَ صَوْتـَهُ فَيَقُوْلُ : سَلاَمٌ عَلَيْكُمْ ِبـمَا صَبَرْتـُمْ فَـنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ . ثُمَّ اَبُوْ بَكْرٍ يَـفْعَلُ مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ عُمَرُ ثُمَّ عُثْمَانُ .رواه البيهقى .

Artinya: al-Waqidy berkata “Nabi Muhammad saw. berziarah ke makam syuhada’ uhud pada setiap tahun, apabila telah sampai di makam syuhada’ uhud beliau mengeraskan suaranya seraya berdoa : keselamatan bagimu wahai ahli uhud dengan kesabaran-kesabaran yang telah kalian perbuat, inilah sebaik-baik rumah peristirahatan. Kemudian Abu Bakar pun melakukannya pada setiap tahun begitu juga Umar dan Utsman.

Diterangkan dalam kitab Ittihaf al-Sadah al-Muttaqin juz XIV hal.271, kitab Mukhtashor Ibnu Katsir juz 2 hal.279, dan dalam kitab Raddu al-Mukhtar ‘ala al-durri al-Mukhtar juz 1 hal 604.

BOLEHKAH MEMBACA ALQUR'AN DI ATAS KUBURAN...?
Memang ada sekelompok orang yg mengatakan membaca Alqur'an di atas kuburan ketika berziarah itu amalan yg tidak dikenal para salaf dan bisa dikatakan bid'ah......pendapat ini salah dan tidak bertanggung jawab...!perhatikan perkataan imam Al hafidz Al Faqih An Nawawy di kitab Al Adzkar:
"dan disunnahkan bagi peziarah untuk memperbanyak membaca Alqur'an dan dzikir(tahlil,tasbieh dan tahmid)dan berdoa untuk Ahli kubur itu juga untuk para mayit dari seluruh orang orang islam. Disunnahkan pula memperbanyak berziarah dan berdiam diri(al wuquf)di disamping pekuburan AHL AL KHOIR WAL FADHL(ahli kebaikan dan keutamaan)"...Al Adzkar hal 152 cetakan Al hidayah.
dalam kitab yang sama(al adzkar)halaman 193 hamisy juz 4 kitab Al Futuhat al Robbaniyah,imam Nawawy berkata: Assyafi'ie ra dan para ashhabnya berkata:"di sunnahkan untuk membacakan Al qur'an di samping kuburan mayyit,maka apabila sampai mengkhatamkannya menjadi lebih baik. kami juga meriwayatkan di sunan AL Baihaqi dengan Isnad yang baik bahwa: Ibnu Umar menyukai untuk dibacakan di atas kuburan surat Albaqoroh dan khowatimnya(penutup2nya).
Dalam hadits lain disebutkan: bacakanlah Yasiin untuk orang orang yang mati dari kalian(hadits Shohieh riwayat Ibnu Hibban dan Abu Dawud)dan amal al yaumi wallailah hal 581,dan tidak ada keterangan dari lafadz Al Mauta itu apa orang yang mau mati apa orang yang sudah mati?maka mengartikan lafadz secara hakikat itu jauh lebih utama di bandingdiartikan dengan secara majaz.
juga ada sebuah hadits yg menerangkan fahoill surat al ikhlalsh:dari Ali bin Abi Tholib ra ia berkata:barangsiapa yg melewati kuburan kemudian membaca Qul HuaLLohu Ahad sebelas kali,kemudian dihadiahkan pahalanya untuk orang yg telah mati maka ia akan diberi pahala sebanyak bilangan orang yang mati(al Armiyuny)dan Ahmad bin Hanbal.
Syekh Muh. Amin Al kurdy dalam kitab tanwir al qulub hal 216 disebutkan:Bacaan al Qur'an itu bermanfaat bagi mayit dalam 3 tempat yaitu: 1.Bila dibacakan di hadapannya..2.Bila dibacakan dari jauh namun dia berdo'a untuk mayit tersebut setelahnya 3.Tidak berdo'a untuk mayit namun ditujukan untuk mayit tersebut.
Al-‘Allamah al-Imam Muwaffiquddin ibn Qudamah dari madzhab Hanbali mengemukakan pendapatnya dan pendapat Imam Ahmad bin Hanbal dalam kitab karyanya al-Mughny juz 2 hal. 566.
قَالَ : وَلاَ بَأْسَ بِالْقِرَائَـةِ عِنْدَ اْلقَبْرِ . وَقَدْ رُوِيَ عَنْ اَحْمَدَ اَنَّـهُ قَالَ : اِذاَ دَخَلْتمُ ْالَـْمَقَابِرَ اِقْرَئُوْا اَيـَةَ اْلكُـْرسِ ثَلاَثَ مِرَارٍ وَقُلْ هُوَ الله ُاَحَدٌ ثُمَّ قُلْ اَللَّهُمَّ اِنَّ فَضْلَهُ ِلأَهْلِ الْمَقَابِرِ .
Artinya “al-Imam ibn Qudamah berkata : tidak mengapa membaca (ayat-ayat al-Qur’an atau kalimah tayyibah) di samping kubur, hal ini telah diriwayatkan dari Imam Ahmad ibn Hanbal bahwasannya beliau berkata : jika hendak masuk kuburan/makam, bacalah Ayat Kursi dan Qul Huwa Allahu Akhad sebanyak tiga kali kemudian iringilah dengan doa : Ya Allah keutamaan bacaan tadi aku peruntukkan bagi ahli kubur.
Menurut jumhur fuqoha’ ahlussunnah wal jama’ah seperti yang telah diterangkan oleh al-‘Allamah Muhammad al-‘Araby mengutip dari hadits Rasulullah dari sahabat Abu Hurairah ra.

وَعَنْ اَبِـى هُرَيْرَةَ رَضِىَ الله ُعَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّىالله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ دَخَلَ اَلْمَقَابِرَ ثُمَّ قَرَأ َفَاتِحَةَ اْلكِتَابِ وَقُلْ هُوَالله ُاَحَدٌ , وَاَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرْ , ثُمَّ قَالَ : اِنـِّى جَعَلْتُ ثَوَابَ مَا قَرَأْتُ مِنْ كَلاَمِكَ ِلأَهْلِ اْلـَمقَابِرَ مِنَ اْلمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ كَانُوْ شُفَعَاءَ لَهُ اِلَى اللهِ تَعَالىَ .

Artinya: Abi Hurairah ra. berkata, Rasulullah saw bersabda “barang siapa berziarah ke makam/kuburan kemudian membaca al-Fatikhah, Qul Huwa Allah Ahad, dan al-Hakumuttakatsur, kemudian berdoa “sesungguhnya aku hadiahkan pahala apa yang telah kubaca dari firmanmu kepada ahli kubur dari orang mukmin laki-laki dan mukmin perempuan” maka pahala tersebut bisa mensyafaati si mayit di sisi Allah swt”

BACAAN SELAIN ALQUR'AN UNTUK MAYIT.
Ibnu Taimiyah menegaskan masalah tahlil dengan keterangannya sebagai berikut :

اِذَا هَلَّلَ اْلاِنْسَانُ هٰكَذَا : سَبْعُوْنَ اَلْفًا اَوْاَقَلَّ اَوْ اَكْثَرَ وَاُهْدِيَتْ اِلَيْهِ نَـفَـعَـهُ الله ُبِذٰلِكَ

Artinya : Jika seseorang membaca tahlil sebanyak 70.000 kali, kurang atau lebih dan (pahalanya) dihadiahkan kepada mayit, maka Allah memberikan manfaat dengan semua itu. Fatawa XXIV/323 dengn demikian jelaslah bahwa membaca Al Qur'an diatas kuburan itu hal yang di syari'atkan dan perilaku atau sunnah para salaf juga tidak ada ayat al qur'an ataupun hadits yang mengharamkannya jadi kita tidak boleh mengharamkan dan menambahi ajaran agama dengan melarang orang membaca Al qur'an dan dzikir di atas kuburan atau MENGHARAMKAN APA YANG DIBOLEHKAN AJARAN AGAMA.

3.KARENA BERTABARRUK(MENCARI KEBERKAHAN)
Kalau yang kita ziarahi itu kuburan para Nabi dan para Shalihien maka akan bernilai lebih bukan hanya akan dapat mengingat kematian dan sunnah semata namun lebih dari itu,yaitu keberkahan yang akan didapat dari si peziarah itu seperti apa yang dikatakan AL IMAM ABUL FAROJ IBNUL JAUZY AL HANBALY dalam kitab manaqib Ma'ruf al karkhy HAL 200 juga tarikh Baghdad hal 122 juz 1,bahwa beliau menukil dari gurunya Ibrohim al harby dan beiau adalah termasuk imam salaf yg menyerupai imam Ahmad bin Hanbal dalam ke zuhudan dan wara'nya beliau berkata:Kuburan Ma'ruf Al karkhy adalah OBAT PENAWAR YANG AMPUH.
Begitu juga halnya dengan Imam Assyafi'ie rabeliau berkata:setiap kali aku ada kesulitan maka aku shalat dua rakaat dan berziarah di kuburan imam Abu hanifah,lalu hajatku terkabul berkat aku berziarah kepadanya.(manaqib Imam Syafi'ie)
Apalagi bila yang kita ziarahi itu baginda Nabi saw,yang menjadi juru syafa'at ummat ini sudah barang tentu tak dapat diragukan lg akan KEBERKAHANNYA. Dalam hal ini al imam Al Hafidz Assyekh Imaduddin ibn Katsir berkata: segolongan Ulama menuturkan sebuah cerita,diantaranya adalah Syaikh Abu Manshur al Shobbagh di dalam kitabnya Al Syamil dari al 'utby dia berkata: ketika aku duduk disamping kuburan Nabi saw,ada seorang arab kampung datang berkata: Assalaamu 'alaika yaa Rasuulallaah......aku mendengar firman Allah :walau annahum.........dst,oleh karena itu aku mendatangimu sbg orang yang memohon ampun dan memohon syafa'at melaluimu kepada Tuhanku kemudian dia mambaca syair:
يا خير من دفنت بالقاع اعظمه# فطاب من طيبهن القاع والاكم
نفسي الفداء لقبر انت ساكنه # فيه العفاف وفيه الجود والكرم.....
Artinya: wahai orang yg terbaik dari jasad yang terkubur di dataran tanah.....
Maka dataran dan pegunungan menjadi wangi karena semerbak dataran itu......
Nyawaku menjadi tebusan bagi haribaan yg kau huni.....
Yg di dalamnya terdapat keapikan, kedermawanan dan kemuliaan....
.........kemudian orang tersebut berpaling,lalu aku tertidur dan bermimpi bertemu Nabi saw......beliau berkata:temuilah orang kampung tadi dan berilah dia khabar gembira bahwa Allah swt telah mengampuninya....
kisah ini disebutkan imam Nawawi ra di kitab al idhoh hal 498. Al Hafidz ibnu katsir juga meriwatkan di tafsirnya yg terkenal.....ibnu qudamah dalam al mughni juz 3 hal 490,kasyful qina' kitab fiqh madzhab Hanbaly hal 30 juz 3.

Al hafidz Abu bakar Al Baihaqi juga al hafidz ibnu Abi Syaibah dan al hafidz ibnu katsir meriwayatkan hadits dengan sanad yang shahih juga dikomentari oleh al hafidz ibnu hajar di kitab fath al bari syarah shahih al Bukhary juz 2 hal 415 bahwa memang hadits tersebut shahih yaitu:
Pada zaman khilafah Umar bin Al Khotthob ra terjadi kemarau yg menimpa orang orang,kemudian ada seorang laki laki yang mendatangi kuburan Nabi saw dan dia berkata:
يا رسول الله.....استسق لامتك فانهم قد هلكوا ...فاتاه رسول الله في المنام فقال :ائت عمر فاقرئه مني السلام واخبرهم انهم مسقون ،وقل له عليك بالكيس الكيس........
Wahai Rasulullah mohon hujan lah(kepada Allah) untuk ummatmu karena mereka akan binasa.........kemudian Nabi saw mendatanginya di dalam tidur(mimpi) beliau berkata: datangilah umar dan sampaikan salam dariku katakan kepada mereka bahwa mereka akan disirami hujan.
Dan hendaknya kamu mendahulukan orang yang pandai......
Dalam kitab fath al bary disebutkan bahwa laki laki yang datang ke kuburan Nabi saw dan bermimpi tersebut adalah Bilal bin al harits al Muzanny ra salah seorang shahabat Nabi saw yang masyhur.
WALLAHU 'ALAM BISSHOWAAB.

RUJUKAN:
1.AL ADZKAR ANNAWAWIYAH
2.MAFAHIM YAJIBU AN TUSHOHHAH.
3TANWIRUL QULUB.
4.AL FUTUHAT AL ROBBANIYAH.
5.FADHAIH AL WAHHABIYAH.
5.DHIYA' ASSHUDUR.
6.DAN LAIN LAIN.....